AKTIVIS KELEDAI

Berikut akan dijelaskan ciri-ciri aktivis keledai:

  • Alur Koordinasi ; aktivis keledai selalu mempermasalahkan ALUR koordinasi, sehingga dinamika organisasi hanya berkutat pada ALUR, ALUR,dan ALUR. Seharusnya seorang aktivis tidak perlu lagi berkutat pada ALUR tapi sudah menyentuh substansi KOORDINASI. Orang-orang sudah sampai ke bulan, tapi dia masih membicarakan alur.
  • Kurang Koordinasi ; selain selalu berkutat pada ALUR koordinasi, aktivis keledai juga kurang berkoordinasi dengan pihak lain yang terkait. Biasanya permasalahan ini muncul karena aktivis keledai tidak komunikatif dan tidak cermat dalam menganalisis kondisi di lapangan.
  • Kurang Inisiatif ; aktivis keledai biasanya kurang inisiatif dalam kesehariannya di organisasi. Dia terlalu sayang dengan otaknya sehingga tidak digunakan secara optimal. Dia terlalu sayang dengan tenaganya sehingga hanya mengandalkan orang lain untuk bergerak.
  • Terlambat ; aktivis keledai selalu TERLAMBAT dalam hal (disiplin) waktu. Dia tidak menghargai waktu sebagaimana mestinya. Contoh, ketika mengagendakan rapat pada pukul 19.00 wib, si aktivis keledai hadir rapat pukul 19.30 wib, alasan yang diberikan pun tidak rasional dan bahkan cenderung mengada-ada dan dibuat-buat. Intinya, si keledai selalu ngaret!
  • Ngalor-ngidul ; pada saat mengadakan/memimpin rapat, aktivis keledai sering ngalor-ngidul, out-of-topic. yang lebih parahnya, agenda rapat tidak jelas!
  • Tidak Mengenal Pengurus Lain ; aktivis keledai biasanya tidak terampil dalam bergaul dan cenderung egois. Dia hanya berteman dengan lingkungan terdekatnya dan tidak mau mengenal pengurus lain.
  • Tidak bertanggungjawab ; aktivis keledai tidak bertanggungjawab dalam amanahnya di organisasi. Selalui lalai dalam deadline tugas. 1001 alasan pun dipersiapkan untuk ‘ngeles’.
  • Gampang Menyerah ; aktivis keledai, ketika dihadapkan dengan permasalahan yang kompleks, yang ada dibenaknya hanyalah kata MENYERAH. dia tidak memiliki semangat dan etos kerja yang tinggi.
  • Memaksakan Kehendak ; tipikal aktivis keledai ini biasanya menduduki jabatan PEMIMPIN di sebuah organisasi. Si keledai ini memaksakan pendapatnya untuk dilaksanakan. Dia tidak memikirkan, tidak menghargai, dan menganggap remeh pendapat orang lain (apalagi pendapat dari satu angkatan atau adik tingkat), baginya pendapat orang lain hanya menghambat kemajuan organisasi. Dia tidak memikirkan kreatifitas dan orisinilitas gagasan pengurus lain. Mungkin karena dia merasa sebagai PEMIMPIN dan dengan dalih demi kebaikan, (tanpa disadari) selalu memaksakan kehendaknya tapi bila hal ini terus terjadi berarti dia telah menghambat pertumbuhan dan peningkatan kualitas dari pengurus lain dan ini sangat membahayakan eksistensi organisasi.
  • Anti-Kritik ; aktivis keledai biasanya anti-kritik bila ada yang mengkritiknya. Ketika mendapatkan kritik, dia langsung melakukan counter-attack, mulai dari bergumam dalam hati, sampai membalas kritikan dengan kritikan. Terlepas dari kritikan tersebut benar atau tidak, selayaknya harus diterima dengan legowo, berikan klarifikasi secukupnya jika memang kritikan tsb tidak benar. Tidak perlu kebakaran jenggot.
  • Suudzon (negative-thinking) ; pikiran dan hati aktivisi keledai selalu negatif. Sikap awalnya ketika menghadapi masalah adalah langsung berpikir negatif dan cenderung lebay. “Ah..si A konspirasi ni”, “si B ingin menjatuhkan kita”, “si C tu ngomong apa sih, dia dulu juga ga bener organisasinya”, itulah segelintir sikap awal dari dia. Ibarat sebuah kotak, kotak tersebut selalu diisi dengan sampah. Jadi, dia yang selalu berpikir negatif tak ubahnya seperti sebuah keranjang sampah.
  • Eksistensi pribadi ; niat aktivis keledai dalam berorganisasi cenderung tidak lurus. Dia hanya memikirkan eksistensi pribadi. Beberapa contoh eksistensi pribadi yang dikejar oleh aktivis keledai: mengintensifkan hubungan dengan pacar (karena satu organisasi), cari pacar, popularitas, menonjolkan tampang (biasanya ini terjadi pada keledai berparas tampan/cantik) dan mengumumkan ‘ketampangannya’, (sok) sibuk pada suatu event dan selalu berseliweran (hilir-mudik tak tentu arah).
  • Melakukan Penyimpangan ; penyimpangan disini maksudnya adalah yg terkait dengan uang. jadi biasanya aktivis keledai dalam tender-tendernya selalu terdepan dalam melakukan penyimpangan agar dompetnya tetap berisi.
  • Berpikir dangkal ; namanya juga keledai, otaknya ya dangkal. Aktivis keledai senantiasa berpikir dangkal dan cenderung men-generalisir suatu kondisi. Implikasinya, solusi dan ide-ide yang ditawarkan tidak rasional.
  • Gengsi; aktivis keledai selalu mengedepankan GENGSI. Gengsi untuk menerima pendapat dari teman seangkatan/adik tingkat, gengsi untuk mengevaluasi dan mengganti strategi perang (dalihnya atas nama ‘komitmen’ dan ‘konsisten’), gengsi untuk belajar kepada yang lebih berkompeten (dalihnya atas nama ‘mandiri’), dan gengsi-gengsi lainnya.
  • Sombong ; aktivis keledai yang memiliki segudang pengalaman organisasi cenderung sombong. Dia ingin menunjukkan bahwa dirinya hebat dan jauh lebih paham masalah organisasi. Terkadang dalam ‘aksinya’, ia lebih suka bergerak SENDIRI.
  • Enggan-Belajar ; aktivis keledai enggan belajar lebih dalam untuk menambah wawasannya. Dia merasa ilmunya sudah tinggi (padahal ilmu organisasi yang dipake ialah ilmu organisasi SD-SMP-SMA yang kurang relevan untuk organisasi tingkat perguruan tinggi). Dia tidak suka membaca, malas menulis, dan alergi untuk berdiskusi. Dirinya rela untuk dipekerjakan dan mempekerjakan pengurus lain sebagai budak yang diberi targetan deadline proker dan tetek bengek sebagainya.
  • Tidak Mendayagunakan Otak ; aktivis keledai sangat sayang dengan otaknya. Dia tidak rela otaknya didayagunakan secara optimal untuk berpikir luas dan positif. Secara tidak langsung, dia telah menaikkan harga otaknya karena masih sangat orisinil.
  • Ketika membaca tulisan ini, aktivis keledai mengerutkan dahinya dan tidak menerima tulisan ini karena sebagian atau seluruh ciri-ciri di atas ada pada dirinya. Rasa emosi pun membuncah hingga emosi tingkat dewa. Dalam hati pun ia berkomat-kamit. Akhirnya ia men-justifikasi tulisan ini berbahaya untuk dibaca.
  • Sebagian lainnya, ketika mendapatkan sebagian atau seluruh ciri-ciri di atas ada pada dirinya, dia hanya tersenyum dan berkata,’’iya ya, bener juga ini tulisan’’. Namun sayangnya ia tidak mau berubah menjadi lebih baik dan membiarkan dirinya tetap menjadi keledai, ups..maksudnya aktivis keledai.

Sekarang mari kita cermati kondisi di organisasi kita, apakah pengurusnya terdiri dari aktivis-aktivis keledai? Atau bahkan diri kita sendiri adalah aktivis keledai? Silakan jawab secara jujur 🙂

Advertisements
Post a comment or leave a trackback: Trackback URL.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: